Ada Tiga Tipe Kepribadian Mahasiswa

MEDAN, VERITAS – Dosen Pascasarjana Unimed, Prof. Efendi Napitupulu, M.Pd mengatakan, ada tiga tipe kepribadian mahasiswa saat menjalankan tugasnya sebagai kaum intelektual. Hal ini dikatakan Efendi saat tampil sebagai pembicara dalam seminar bertema ”Profesionalisme dalam Peningkatan Mutu Pendidikan” yang diselenggarakan Penerbit Erlangga di Gedung Penerbit Erlangga Medan, Sabtu (6/4/2013).

            Efendi menjelaskan, tiga tipe kepribadian tersebut adalah: mengeluh, kesabaran dan bertindak. Menurut Efendi, perasaan mengeluh tidak jauh dari kepribadian sebagian besar mahasiswa dalam mengerjakan dan mencari  tugas. ”Tetapi tanpa disadari mahasiswa, mengeluh bisa membuat mahasiswa mengalami kegagalan. Ia tidak mampu menemukan dan menyelesaikan tugasnya,” kata Efendi.

            Terkait kesabaran, kata Efendi, dibutuhkan siapapun, termasuk mahasiswa dalam mengerjakan sesuatu. Menurut efendi, mahasiswa harus mampu menyeiimbangkan perasaaan emosional pada saat mengerjakan suatu pekerjaan. ”Tetapi ada hal yang lebih penting agar suatu pekerjaan tersebut berhasil, yaitu dengan bertindak,” katanya.

            Sedangkan bertindak adalah tindakan nyata dalam mengerjakan sebuah kegiatan (tugas). Dengan adanya sebuah tindakan, maka tidak akan ada kata menunggu dan mengeluh melainkan bertindak sesuai dengan strategi yang telah disiapkan. ”Dengan demikian, maka sebuah pekerjaan akan dapat diselesaikan dengan baik,” ujarnya.

            Efendi mengatakan, baik buruknya mutu pendidikan tidak semata-mata berada di tangan pemerintah saja, tetapi juga ditentukan oleh masyarakat, termasuk mahasiswa. Mahasiswa misalnya, jika tidak sungguh-sungguh menerapkan proses belajar yang baik, maka hasilnya akan berujung kepada kegagalan. Sejalan dengan itu, maka mutu pendidikan akan buruk pula.

            ”Mutu pendidikan merupakan pengukuran yang dilakukan secara teratur atas hasil dan efisiensi dari hasil kebijakan, program dan kegiatan dalam bidang pendidikan. Mutu pendidikan sangat diperlukan untuk melihat sejuh mana proses pendidikan dijalankan, apakah memanusiakan atau justru tidak memanusiakan,” kata Efendi.(Yuliana Lumbangaol)

This entry was posted in Berita Kampus and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s