Kampusku yang Kosong

Oleh: Niren Agustini Surbakti

AKU menatap lorong-lorong kampus yang sepi. Gedung yang berdiri megah itu membisu di tengah keramaian mahasiswa di warung-warung jalan kampus. Dedaunan yang sudah mengering berserakan di jalanan tertiup angin seperti musim gugur di negara-negara sub tropis. Ini masih sangat pagi untuk kampus yang mahasiswanya cukup banyak untuk ditinggalkan tanpa suara. Seharusnya banyak hal yang bisa dilakukan di kampus ini. Paling tidak menghabiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.

Ku jejaki setiap jalan di lorong-lorong kampus. Tidak ku lihat ada tanda-tanda kehidupan. Setiap ruangan ini mati dan tidak bersuara. Aku berhenti di ruangan bersegi empat, pagi tadi aku dan mahasiswa lain masih di sini untuk mendapatkan sedikit ilmu pangan dari dosen yang suka menulis itu. Tapi sekarang hanya ada kursi-kursi yang berbicara dengan kesepian, white board yang tergantung seperti ingin bebas dan beberapa sampah pembungkus permen yang sedikit berserakan dilantai.

“Sedang apa, Dik? Sapa seorang senior padaku.

Aku tersenyum. “He he he . Tidak ada, hanya ingin berkeliling saja, Bang.” jawabku.

Dia pun berlalu tanpa banyak tanya lagi. Lalu aku melanjutkan petualangan yang tidak jelas apa tujuannya. Kali ini aku menatap dari lantai dua Fakultas Pertanian. Di sana kulihat mahasiswa FKIP yang sedang mengikuti mata kuliah dari dosen mereka. Ada canda dan tawa di balik proses belajar mengajar itu. Permainan lucu yang membuatku ikut tertawa sendiri.

Melewati itu semua, aku berjalan lagi, kali ini aku menuju gedung yang tidak begitu banyak peminatnya. Perpustakaan kampus yang sepi, dan dengan buku-buku yang usianya sudah cukup tua tersusun rapi di sana. Ku jelajahi setiap barisan buku itu. Aku hanya mencari satu buku yang akan menjadi referensiku untuk tugas yang sudah sangat menumpuk. Tidak ada suara, dan hanya ada satu dua pengunjungnya. Aku tersenyum miris ketika mengingat perkataan dosen alumni IPB itu.

“Kalian tahu, mahasiswa di Medan ini sangat berbeda dengan di pulau Jawa. Mereka sangat terbiasa dengan budaya membaca. Perpustakaan akan diramaikan oleh mahasiswa dan yang paling menarik setiap lorong di kampus merupakan tempat bagi mereka untuk membaca buku di waktu kosong,” kata dosen itu.

Kami hanya terdiam dengan kata-kata itu. ”Ada benarnya itu.” pikirku. Aku sangat menyadari bahwa aku sendiri masih kurang minat membaca buku. Ku ambil satu buku yang menjadi pilihanku dan memberinya ke petugas perpustakaan. Dia tersenyum padaku dan memberi selembar kertas untuk ku tanda tangani. Lalu aku memasuki satu ruangan sejuk yang menjadi tempat favorit bagi mahasiswa untuk berdiam.

Di sana, beberapa mahasiswa berhadapan dengan laptop masing-masing dan mengerjakan tugas atau hanya sekadar untuk menjelajah di dunia maya. Ku rebahkan diriku dikursi dan membiarkannya terdiam sejenak disana untuk sedikit berpikir tentang sepinya kampus ini. Tapi, tetap tidak ku lihat jawabnya.

“Kau terlihat memikirkan sesuatu?” sapa seseorang di sampingku.

“Hah?!” aku terkaget.

“Iya, aku melihatmu memikirkan sesuatu, adakah yang bisa ku bantu?” tanyanya lagi.

“Oh… Aku hanya sedikit lelah,” jawabku tersenyum.

“Oke.. Apakah kau perlu bantuan?” tanyanya lagi tidak yakin.

“Tidak, terimakasih,” jawabku.

“Aku Fakultas Ekonomi, akuntansi stambuk 2011, panggil aku Remi,” katanya memperkenalkan diri.

Sedikit aneh dengan tingkah laki-laki muda ini, tapi aku menjawabnya juga.

“Pertanian, agribisnis 2012, dan aku Ana,” kataku.

“Aku memperhatikanmu dari tadi, sepertinya aku mengenalmu, apakah kita pernah bertemu sebelumnya” katanya lagi

“Aku rasa tidak, aku baru disini dan belum mengenal banyak orang,” jawabku cuek.

“Baiklah, anggap kita tidak pernah ketemu. Tapi apakah kau pernah pergi ke kelas menulis di Ekonomi?” tanyanya lagi.

“Bagaimana kau tahu?” tanyaku sedikit tertarik ketika dia menyebut kelas menulis.

“Aku hanya memperhatikan kelas itu dari luar dan sering melihatmu didalam tapi aku tidak pernah mengikutinya,”

“Ooo…” aku mengangguk.

“Hari ini akan ada pertemuan di kelas menulis, dan aku akan ke sana setelah ini. Oh iya, jika kau berminat kau boleh bergabung tapi tahun depan,” kataku tersenyum senang ketika menceritakan tentang Komunitas Veritas.

“Aku tidak terlalu suka menulis, tapi aku akan sangat senang jika ada temanku yang berbakat di sana,” jawabnya tersenyum sembari mengulurkan tangannya padaku.

“Teman?” tanyaku sedikit aneh dengan perkataannya.

“Ya, teman, bukankah aku sudah tahu namamu, maka sekarang kita berteman,” jawabnya.

“Baiklah, kita berteman,” jawabku.

Dia tersenyum.

Butuh waktu yang cukup lama untuk bisa membuatku bisa tertawa dengannya. Dia cukup menarik dan tidak membosankan, dari ceritanya aku tahu bahwa dia selalu merindukan sebuah gebrakan baru dari kalangan muda. Aku sendiri tidak mengerti apa maksudnya. Karena bagiku, apapun ceritanya aku yakin dia akan segera melupakanku setelah pertemuan ini, begitu juga denganku.

***

 

REMI cukup membuat hariku ceria hari ini. Ku langkahkan kakiku ke kelas menulis dan masih ku perhatikan lingkungan kampus dengan sejuta kesepiannya. Di balik tanganku terselip selembar kertas yang ku terima dari Remi semenit sebelum aku pergi meninggalkannya.

“Aku harus pergi, Remi. Senang bisa mengenalmu,”

“Baiklah…”

Aku berbalik dan berjalan meninggalkan Remi. Belum jauh melangkah, aku mendengar teriakan Remi memanggil namaku.

“Ada apa?” tanyaku mengernyitkan kening.

“Ini, aku sangat berharap kelak bisa di baca oleh orang banyak,” katanya sembari menyodorkan kertas yang terlipat rapi.

“Apa isinya?”

“Nanti, setelah kau keluar kau akan tahu,”

”Baiklah,”

Sesampai di luar perpustakaan, aku melihat selembar kertas yang diberikan Remi kepadaku. Kubaca perlahan isinya.

 

Kampusku yang kosong, tempatku berpetualang, tempatku tertawa dan tempatku bernapas

Walau tanpa sadar, di atas gedung tinggimu aku berdiri dan bermimpi tentang hidupku

Kampusku yang sepi, kau berbisik padaku tentang gundahmu, tentang getirnya menyendiri tanpa kehidupan

Tentang hilangnya kreativitas mahasiswamu

Kampusku yang kosong, hanya melihat si malas tanpa daya, berjalan penuh tawa, berbisik penuh tanya

Dimanakah mahasiswamu berada?

Gesekan dedaunan pun memberi isyarat padaku bahwa kau merindukan sebuah kreativitas

Tidak hanya omong besar

Kampusku yang kosong, kukatakan padamu, mungkin bukan aku yang akan membuatmu ramai

Tapi aku percaya kelak akan ada kemajuan untukmu.

 

Aku tersenyum membaca tulisan Remi. Kuselipkan tulisan tersebut ke dalam buku yang baru kupinjam tadi. Lalu aku berjalan kembali.(*)

This entry was posted in Rehat and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s