Puas dengan capaian Reformasi

Fokus-Grafis

LALU sampai dimanakah kepuasan civitas akademika Unika Santo Thomas Medan terhadap pencapaian reformasi?. Survei lokal yang dilakukan Litbang Veritas Unika pada 22 April-4 Mei 2013 dengan 100 responden menunjukkan 53  persen (53 responden) puas dengan hasil capaian 15 tahun reformasi. Sedangkan 41 persen (41 responden) menyatakan tidak puas dengan capaian 15 tahun reformasi. Sedangkan sisanya, sebanyak 6 persen (6 responden) menjawab tidak tahu.

Oscar Pangaribuan, mahasiswa FE Unika Santo Thomas mengatakan, secara pribadi dirinya puas dengan pencapaian 15 tahun reformasi di Indonesia. Oscar mencontohkan perekonomian Indonesia menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir atau mencapai 4,8 persen. ”Meski demikian, angka pengangguran memang masih tinggi. Kemudian, rakyat yang kelaparan juga tetap ada. Jadi, dari sektor ekonomi, saya puas dengan pencapaian reformasi di Indonesia,” kata oscar.

Bertolak belakang dengan Oscar, Ardhy Prananta, mahasiswa FKIP Unika Santo Thomas mengatakan, setelah 15 tahun reformasi, kesejahteraan rakyat Indonesia justru semakin ambruk. ”Hanya orang-orang kaya yang merasakan kesejahteraan, tidak dengan orang miskin,” kata Ardhy.

Aktivis 98 yang kini menjadi calon anggota DPD di pemilu 2014, Turunan Gulo, SP, MSP mengatakan, dari dimensi politik, kondisi Indonesia pada masa reformasi dibandingkan saat Orde Baru jauh lebih baik. Saat ini, kata Turunan, orang bisa mengemukakan pendapatnya dengan lebih terbuka, bisa berserikat dan berkumpul, bisa memaki-maki dan bebas berpendapat. Kebebasan pers juga jauh lebih baik meskipun terkadang kebablasan. ”Intinya jauh lebih baik. Harus diakui, tetap ada cacat-cacat demokrasi di tengah perkembangan sisi demokrasi. Melihat kritikan terkait demokrasi saat ini, kembali ke sistem lama bukanlah solusi, tetapi bagaimana memperbaikinya. Meminjam pernyataan Yudi Latif, demokrasi ada yang salah. Jadi kita harus mengobati bukan memberangus,” kata Turunan.

Mantan komisioner KPU Sumut tahun 2004-2013 ini mengatakan, dari dimensi ekonomi, keterpurukan ekonomi masih menjadi persoalan serius di masa reformasi saat ini. Tapi, kata Turunan, tak semua sendi-sendi perekonomian mengalami keterpurukan. ”Jurang antara yang kaya dan miskin tidak separah saat Orde Baru. Saat ini kelas menengah relatif banyak. Yang jadi masalah adalah tata kelola pemerintahan dan good governance,” katanya.(Suryono, Truly Okto)

This entry was posted in Fokus and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s