Reformasi? (Catatan Kekinian 15 Tahun Reformasi Indonesia)

Oleh: Hendra D.S. Naibaho 

TANGGAL 21 Mei 2013, genap sudah 15 tahun yang lalu Indonesia menambah catatan sejarah perjuangannya. Bukan melawan para penjajah tapi memperjuangkan satu jati diri yang baru dari sebuah bangsa besar. Kini 2013, apakah jati diri itu telah didapatkan oleh bangsa ini?

Mari sejenak kita telisik apa arti dari reformasi. Berasal dari bahasa Inggris yaitu reformation, dari kata reform yang artinya perbaikan, pembaharuan, memperbaiki diri menjadi lebih baik. Sementara secara umum yang dipahami masyarakat Indonesia tentang reformasi adalah peristiwa pergantian suatu orde penguasa yang sebelumnya kuat yang kita sebut orde baru ke masa pemerintahan reformasi.

Tahun 1998 menjadi suatu puncak kegelisahan Indonesia yang diwakili oleh suara-suara kaum muda (mahasiswa) di seluruh nusantara. Asal mula dari kegelisahan ini adalah krisis ekonomi yang merongrong Asia dan berdampak jelas pada bangsa kita saat itu, ditambah lagi masyarakat mulai tak nyaman dengan suatu orde penguasa yang telah puluhan tahun duduk di “Istana” namun tak kunjung dapat menyelesaikan masalah ekonomi di Indonesia saat itu. Banyak pula isu-isu praktik KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme) tercium oleh masyarakat dari Istana dan para pelaku birokrasi di Indonesia.

Kegelisahan bangsa mulai meledak saat para demonstran mulai turun menembus tirani penguasa yang saat itu tak ada kebebasan berbicara. Seluruh nusantara para kaum mudanya turun  ke arena demonstrasi. Senayan (gedung MPR/DPR-RI) pun menjadi puncak demonstrasi Indonesia tahun 1998. Gedung yang khas dengan kubah hijau itu mendadak penuh diselimuti tumpahan ribuan mahasiswa dengan menggunakan almamaternya. Jalanan ibukota pun bagaikan arena pertempuran antara mahasiswa dan aparat anti huru-hara saat itu.

Puluhan orang tewas, ratusan orang hilang, dan tak terhitung mereka yang terluka saat turun menembus tirani penguasa kala itu. Tumpahan darah, segala pelanggaran HAM saat itu sampai saat ini pun tak ada yang bisa mengungkap penyelesaian pertanggung jawabannya. Namun, tak sia-sia perjuangan para pejuang reformasi pendahulu kita itu, alhasil pemerintahan orde baru pun lengser dengan ditandai pernyataan oleh Soeharto untuk turun dari tahta penguasa yang telah puluhan tahun dinikmatinya.

Kini 2013, sudah 15 tahun berlalu, apakah reformasi itu telah berjalan dengan yang diharapkan? Bangsa ini di mata kita sebenarnya sudah tak asing lagi dengan istilah “jalan di tempat”, begitulah istilah yg akan kita temui jika mengingat telah 15 tahun bangsa ini mengalami reformasi. Pelanggaran-pelanggaran HAM yang telah terjadi saat proses reformasi sampai detik ini belum ada yang mengungkapnya, pemerintah seakan sengaja menghapus memori kelam itu dari catatan perjuangan bangsa ini. Padahal saat ini bukan sedikit para pelaku reformasi 1998 sudah duduk di “Senayan” dan kursi-kursi dewan di daerah-daerah.

 

Praktik-praktik Korupsi

SATU contoh aspek di negara ini yang seakan luput dari reformasi adalah praktek politik. Bukannya semaik baik, bahkan sekarang semakin panas praktek-praktek politik di bangsa ini. Dengan “topeng” kebebasan berdemokrasi, sekarang semakin banyak lagi praktik-prektik korupsi seperti pada zaman orde baru yang merajalela.

Puluhan partai politik muncul dari satu pemilu ke pemilu selanjutnya, berlomba-lomba meraup simpati masyarakat, namun ujung-ujungnya mereka tertangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bukan tidak mungkin mereka yang kita dengar sekarang menjadi tahanan KPK adalah satu dari “pejuang reformasi” dahulu.

Kita lihat saja mereka yang telah ditahan KPK, tak sedikit dari mereka adalah kaum muda, dan bisa kita katakan sebagian besar kaum muda yang berkarya sekarang di parlemen adalah para pejuang reformasi dulunya. Mungkin inilah yang dikatakan orang, jika sudah duduk di kursi-kursi penguasa siapkan pulalah iman yang kuat bagi mereka. Karena tak bisa kita pungkiri dengan duduk di kursi “wakil rakyat” godaan-godaan untuk memperkaya diri pun semakin terbuka jalannya.

 

Estafet Perjuangan Reformasi

KEKINIAN reformasi ini seharusnya membuka mata kita kaum muda atas apa yang sebenarnya telah merongrong bangsa ini. Namun dewasa ini belum banyak kaum muda yang berani untuk mengulurkan tangannya menyambut tongkat estafet perjuangan reformasi. Mahasiswa khususnya, sudah terprogram otaknya hanya pada bidang akademis, dan terlalu menganggap dunia demonstrasi adalah bukan zamannya mereka.

Mungkin benar potret tumpahan demonstran 1998 menjadi torehan luka bagi bangsa, namun dewasa ini bukan zamannya lagi kita untuk melakukan demonstrasi yang rusuh dan mengarah anarkis. Hal ini bukan berarti kita harus diam akan semua kegelisahan  bangsa.

Mahasiswa kini tak ada yang mewarisi semangat reformasi, sebagian takut bersuara di depan umum, berpemikiran “masa bodo” akan bangsa, terbuai dengan gadget-gadget di tangan. Padahal bangsa ini tengah dijajah oleh banyak hal.

Mari kita lihat sejenak semangat saudara-saudara kita yang pada tanggal 1 Mei 2013 kemarin melakukan aksi besar. Saat itu saudara-saudara kita buruh bersatu turun ke jalanan di seluruh penjuru nusantara. Semangat itulah yang tergambar seperti saat tahun1998 yang seharusnya kita warisi bukan hanya duduk diam terpaku dengan gadget masing-masing. Sekarang pertanyaannya, sudah siapkah anda menyambut tongkat estafet perjuangan reformasi?

Selamat memperingati 15 tahun Perjuangan Reformasi Indonesia. Semoga darah juang yang telah tumpah menjadi semangat pembaharuan bagi bangsa kedepannya, dan tak ada lagi penyimpangan cita-cita reformasi di bangsa ini. Salam damai.

 

Penulis adalah mahasiswa FE Unika Santo Thomas, anggota GMKI Cabang Medan, follow @hendradeni

This entry was posted in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s